Jumat, 28 Desember 2012

Riview Jurnal Ekonomi Koperasi (3)



REVIEW 3 :
 Hasil, Kesimpulan, Daftar Pustaka

 PROFIL KOPERASI DI ERA GLOBALISASI: STUDI TENTANG POLA PERGESERAN ORGANISASI PRODUKSI KE KONSUMSI PADA INDUSTRI TAS DAN KOPOR DI KOPERASI INTAKO TANGGULANGIN SIDOARJO TAHUN 1976-2005
Oleh :

Mohammad Adib *
* Dosen Departmen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga
Jl. Airlangga 4-6 Surabaya Email: hmadib@unair.ac.id
Berisi :
HASIL

Hasil penelitian ini tentang kekayaan Koperasi Intako pada lima tahun pertama dan lima tahun terakhir, perbandingan antara total kekayaan (simpanan anggota, cadangan, dan modal atau aset) dibandingkan dengan rata-rata kekayaan Koperasi Intako dapat diperoleh gambaran bahwa pada lima tahun pertama cenderung lebih tinggi perolehan kekayaannya, yang mencapai 193% (1981). Sedangkan pada lima tahun terakhir pencapaian kekayaan tertinggi sejumlah 132% (tahun 2005 sampai Oktober). Lihat tabel 1.



Tabel 1. Jumlah dan Persentase Anggota Koperasi Intako Pada Lima Tahun Pertama dan Lima Tahun Terakhir
Sumber: Koperasi Intako (2006)




Tabel 2. Jenis Kelamin Responden
Sumber: Data primer
Barang jadi yang dipasok ke Koperasi Intako yang berasal dari non anggota dengan demikian maksimal mencapai 31% dan berlangsung pada tahun 2001. Persentase terendahnya pada tahun 2004 dengan angka 6%. Lihat tabel 2 dan 3. Gambaran responden anggota Koperasi Intako dalam penelitian ini 87,7 pesen terdiri dari laki-laki dan 12,3 persen terdiri dari wanita. Itu berarti bahwa mayoritas anggota Koperasi Intako adalah berjenis kelamin laki-laki. Lihat pada tabel 2. Pekerjaan utama responden anggota Koperasi Intako ini mayoritas (64,6%) adalah memang perajin yang memproduksi Tas dan berbagai macam tas lainnya. Meskipun terdapat anggota yang pekerjaan utamanya berbeda yakni sebagai pedagang namun jumlah relative sangat kecil yakni 7%. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 3. berikut ini.





Tabel 3. Pekerjaan Utama Responden
Sumber: Data primer
Anggota Koperasi Intako yang umumnya (64,6%) perajin ini diperoleh gambaran tentang jumlah pekerja yang mengerjakan kegiatan produksi ini sejumlah 50,8% berjumlah 1-5 orang. Jumlah pekerja 11 orang ke atas berjumlah 7,7%. Itu berarti para produsen anggota Koperasi Intako ini umumnya tergolong perajin industri kecil yang jumlah pekerja/karyawannya sekitar 5 orang. Lihat pada tabel 6. Gambaran keanggotaan responden di Koperasi Intako diperoleh deskripsi sebagai berikut, terjadi lonjakan jumlah perajin yang mendaftar sebagai anggota Koperasi Intako pada sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 1996-2005 terdapat kenaikan 32,3%, dan tahun 2001-2005 sejumlah 38,5%. Sebelum tahun tersebut, jumlah anggota yang bergabung untuk mendaftar di Koperasi Intako rata-rata pada set iap l ima tahunnya terdapat tambahan jumlah di bawah angka 10%. Lihat pada tabel 7. Jenis barang jadi yang diproduksi oleh anggota Koperasi Intako adalah sebagai berikut : mayori tas anggota (76,9%) Koperasi Intako adalah perajin dengan mempruduksi jenis produksi barang jadi kulit. Sisanya bahan non kulit, termasuk imitasi. Lihat pada tabel 8.

Tabel 4. Persentase Rata-rata Perkembangan Usaha di Koperasi Intako Pada Lima Tahun Pertama dan Lima Tahun Terakhir








Tabel 5. Perbandingan Pemasok Barang Jadi Dari Anggota dan Non Anggota di Koperasi Intako Tahun 2000-2005





Sumber: Koperasi Intako, 2006. Diolah

Tabel 6.
Jumlah Pekerja atau Karyawan




Sumber: Data primer

Tabel 7.
Tahun Bergabung ke Koperasi Intako



Sumber: Data primer

Tabel 8.
Jenis Produksi Barang Jadi Kulit


Sumber: Data primer
Jenis barang-barang produksi yang dibuat oleh para perajin anggota Koperasi Intako adalah berupa tas kerja diproduksi oleh 35,39% responden. Dari persentase tersebut 10,7% memproduksi tas kerja 26- 50 buah perminggunya. 6,15% mem-produksi tas kerja dengan jumlah antara 51-75 buah perminggu begitu pula persentasenya sama perajin anggota Koperasi Intako yang memproduksi di atas 101 buah perminggu. Lihat tabel 9. berikut ini.





           
Jenis barang-barang produksi yang dibuat oleh para perajin anggota Koperasi Intako berupa tas belanja diproduksi oleh 29,24% responden. Dari persentase tersebut 9,23% memproduksi tas kerja berjumlah 26-50 buah perminggunya. Sementara 7,69% responden memproduksi tas belanja dengan kemampuan produksi antara 51-75 buah perminggu. Lihat tabel 10. berikut ini.

            Perajin anggota Koperasi Intako mempekerjakan pegawai atau SDM pekerja sebagai tukang di bidang produksi mayoritas 87,7% berjumlah sampai 6 orang; 6,2% berikutnya berjumlah 6-10 orang tukang. Artinya perajin anggota Koperasi Intako adalah tergolong dalam industri kecil dan rumah tangga. Sedangkan yang tergolong perajin menengah sejumlah 3.1%. Lihat tabl 11.



Pada tahun 2002 omset kegiatan produksi dari responden Anggota Koperasi Intako pada penelitian ini diperoleh angka 12,3%. Setara dengan tahun 2001 dan 2002, pada tahun 2003 ini terdapat sedikit variasi pada omset Rp 1.000.000-Rp 25.000.000 yang mencapai 4,6%. Terdapat pula dengan omset produksi lebih dari Rp 100 juta (3,1%). Lihat tabel 12. berikut ini.

            Kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh responden pada tahun 2000 sama dengan tahun 2001. Sejumlah 7 orang responden (11,8%) yang melakukan per-dagangan itu, dengan omset rata-rata Rp 25.000.000-Rp 50.000.000 dan bahkan terdapat juga omset Rp 100.000.000, masing-masing dilakukan oleh 4,6% responden. Lihat pada tabel 13. berikut ini.
Persentase omset kegiatan per-dagangan yang dilakukan oleh responden pada tahun 2002 sama dengan tahun 2003. Pada dua tahun ini kegiatan perdagangan dan nyaris sama dengan dua tahun sebelumnya yakni dilakukan oleh sejumlah 7 orang responden (11,8%). Sedikit variasi pada jumlah omset antara Rp Rp 1.000.000 – 25.000.000 dan Rp. 25.001.000-Rp 50.000.000 masing-masing 3,1%. Sedangkan beromset Rp 100.000.000 ke atas dilakukan oleh 3 orang responden (4,6%). Lihat pada tabel 14. berikut ini. 

Jadi karena kemampuan produksi yang dilakukan oleh para produsen perajin tas dan kopor yang terbatas, se-mentara permintaan pasar terus meningkat, maka yang dilakukan oleh para perajin adalah dengan menambah pengadaan barang jadi dengan cara kulakan. Lihat tabel 13 dan 14.
            Di samping kualitas barang yang menjadi perhatian bagi perajin anggota Koperasi Intako untuk ditingkatkan, masalah kuantitas juga tidak luput dari perhatian mereka (87,7%). Artinya bahwa dalam persaingan basar bebas, hendaknya Koperasi Intako dapat menjadi motor dalam meningkatkan jumlah dan kualitas produksi agar dapat bersaing dengan kompetitor-kompetitornya. Lihat tabel 15. berikut ini.
            Pembahasan dari hasil di atas adalah sebagai berikut. Profil Koperasi Intako. Pertama tentang profil Koperasi Intako. Koperasi Intako (Industri Tas dan Kopor) Tanggulangin, bermodalkan awal Rp. 135 ribu pada tahun 1976 dan pada tahun 2004 mencapai Rp. 11,2 milayar. Koperasi yang beranggotakan para perajin tas dan kopor ini pada lima tahun pertama (1976-1981) terdapat semangat yang tinggi untuk bergabung di dalamnya, sampai mencapai angka tertinggi 274% pada tahun 1981. Namun pada 5 tahun terakhir (2000-2005), peningkatan bergabung menjadi anggota terjadi pada tahun 2002 dan 2003 dengan persentase tertinggi 189%. Setelah itu jumlah dan persentase anggotanya cen-derung menurun.  Kedua, perkembangan Usaha. Di-bandingkan dengan rata-rata perkembangan usaha pada 5 tahun pertama (1976-1981) dan lima tahun terakhir (2000-2005), maka usaha pada Koperasi Intako lebih ber-kembang pada lima tahun pertama dengan tingkat perkembangan tertinggi mencapai 193% pada tahun 1981. Sedangkan pada lima tahun terakhir peningkatan usaha tertinggi hanya mencapai angka 132% pada tahun 2004.



            Ketiga keuntungan SHU (Sisa Hasil Usaha) pada tiap tahunnya, yang di-peroleh Koperasi Intako pada lima tahun pertama jauh lebih tinggi dibandingkan pada lima tahun terakhir. Pada lima tahun pertama SHUnya sampai mencapai angka 60% (1977) dengan rata-rata 18% pada tiap tahunnya. Sedangkan pada lima tahun terakhir, hanya mencapai angka tertinggi 14% (2000) dan terus menurun 13% (2001), 10% (2002), 7% (2003 dan 2004). Rata-ratanya pada lima tahunterakhir juga mencapai angka 8% pada tiap tahunnya. Ketiga, pergeseran produksi ke konsumsi. Dari hasil analisis pada lima tahun terakhir (2000-2005), kegiatan usaha Koperasi Intako telah mengalami pergeseran usaha dalam pengertian telah terjadi pengembangan usaha khususnya pada kegiatan perdagangan (kulakan) dengan angka tertinggi 69,2% pada tahun 2005. Namun pengembangan ini juga terjadi pada kegiatan produksi dengan jumlah dan persentase yang nyaris sama—meskipun dengan komposisi pelaku anggota Koperasi Intako yang agak berbeda.  Adapun para perajin anggota Koperasi Intako yang terus aktif melakukan kegiatan perdagangan dan produksi ini adalah perajin pada posisi ekstrim golongan perajin kecil dan ekstrim pada golongan perajin besar. Golongan perajin kecil adalah perajin yang beromset antara Rp 1 – 25 juta pertahun sedangkan golongan perajin besar adalah perajin yang beromset lebih dari Rp. 100 juta pertahun.

KESIMPULAN
Profil Koperasi Intako (Industri Tas dan Kopor) Tanggulangin, bermodalkan awal Rp. 135 ribu pada tahun 1976 dan pada tahun 2004 mencapai Rp. 11,2 milayar. Koperasi yang beranggotakan para perajin tas dan kopor ini pada lima tahun pertama (1976-1981) terdapat semangat yang tinggi untuk bergabung di dalamnya, sampai mencapai angka tertinggi 274% pada tahun 1981. Namun pada 5 tahun terakhir (2000-2005), peningkatan bergabung menjadi anggota terjadi pada tahun 2002 dan 2003 dengan persentase tertinggi 189%. Setelah itu jumlah dan persentase anggotanya cenderung menurun.
Perkembangan usaha. Dibandingkan dengan rata-rata perkembangan usaha pada 5 tahun pertama (1976-1981) dan lima tahun terakhir (2000-2005), maka usaha pada Koperasi Intako lebih ber-kembang pada lima tahun pertama dengan tingkat perkembangan tertinggi mencapai 193% pada tahun 1981. Sedangkan pada lima tahun terakhir peningkatan usaha tertinggi hanya men-capai angka 132% pada tahun 2004.  Keuntungan SHU (Sisa Hasil Usaha) pada tiap tahunnya, yang diperoleh Koperasi Intako pada lima tahun pertama jauh lebih tinggi dibandingkan pada lima tahun terakhir. Pada lima tahun pertama SHUnya sampai mencapai angka 60% (1977) dengan rata-rata 18% pada tiap tahunnya. Sedangkan pada lima tahun terakhir, hanya mencapai angka tertinggi 14% (2000) dan terus menurun 13% (2001), 10% (2002), 7% (2003 dan 2004). Rata-ratanya pada lima tahun terakhir juga mencapai angka 8% pada tiap tahunnya.
Pergeseran produksi ke konsumsi. Dari hasil analisis pada lima tahun terakhir (2000-2005), kegiatan usaha Koperasi Intako telah mengalami pergeseran usaha dalam pengertian telah terjadi pengembangan usaha khususnya pada kegiatan perdagangan (kulakan) dengan angka tertinggi 69,2% pada tahun 2005. Namun pengembangan ini juga terjadi pada kegiatan produksi dengan jumlah dan persentase yang nyaris sama—meskipun dengan komposisi pelaku anggota Koperasi Intako yang agak berbeda.
Adapun para perajin anggota Koperasi Intako yang terus aktif melakukan kegiatan perdagangan dan produksi ini adalah perajin pada posisi ekstrim golongan perajin kecil dan ekstrim pada golongan perajin besar. Golongan perajin kecil adalah perajin yang beromset antara Rp 1– 25 juta pertahun sedangkan golongan perajin besar adalah perajin yang beromset lebih dari Rp. 100 juta pertahun.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, Mohammad. 1999a. ―Profil Industri Tas dan Kopor Tanggulangin pada Masa Krisis: Benarkah 60% Pengusaha Kulit Berhenti Kerja‖, dalam Surya, halaman 8).
________. 1999b. ―Krisis Moneter : Jaringan Sosial sebagai Strategi Dalam Kegiatan Industri Tas dan Kopor di Kawasan Intako Jawa Timur Dalam Menghadapi Krisis.‖ Tesis S2 (Tidak diterbitkan). Program Studi Antropologi Pascasarjana Universitas Indonesia: Jakarta.
________. 2001a ―Kawasan INTAKO Tanggul-angin: Penggalangan Kekuatan Ekonomi Lokal untuk Pasar Global‖ (Makalah) disampaikan dalam Simposium Internasional II di Padang, dengan Thema Globalisasi Dan Kebudayaan Lokal: Suatu Dialektika Menuju Indonesia Baru. Padang: 18-21 Juli.
 -----------------, dkk. 2001b ―Antisipasi UKM Industri Tas dan Kopor (Intako) Tanggulangin dalam Mengisi Pasar Bebas‖. Laporan Lokakarya (Tidak diterbitkan). Kerjasama Program Studi Antropologi FISIP Unair, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unair, Koperasi Intako, dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo: Surabaya.
Balitbangda Propinsi Jawa Timur. 2000 ―Penelitian Pengusha Kecil yang Berbasis Sumberdaya Lokal” Laporan Akhir (Tidak diterbitkan). Kerjasama Balitbangda Jawa Timur dan P-5 Unair : Surabaya.
Bappeda Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. t.t. Peta Potensi Daerah Tingkat II Se Jawa Timur. Bappeda : Surabaya.
Gunardi Dkk. 1998. Usaha Kecil Indonesia: Tantangan Krisis dan Globalisasi. TAFISEI-PERHEPI: Jakarta.
Kompas. 2000 ―Indonesia Diragukan Siap Hadapi Pasar Bebas 2003.‖ Dalam Kompas, Selasa, 29 Agustus 2000.
 Lafontaine, Oscar, Dkk. 2000. Shaping Globalization : Jawaban Kaum Sosial Demokrat atas Neoliberalisme. (Ter-jemahan: Dian Prativi dan Fatchul Muin). Jendela: Yogyakarta.
Sulastomo. 2000. Beberapa Langkah Strategis Menghadapi Globalisasi‖, dalam Kompas, Senin, 4 Desember 2000.  
Yahya, Krisnayana. 2001. ―Intako dan Globalisasi: Mendo-rong Tumbuhnya Industri Kelas Dunia‖. Dalam Laporan Lokakarya (Tidak diterbitkan). Mohammad Adib, Dkk.. Kerjasama Program Studi Antropologi FISIP Unair, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Unair, Koperasi Intako, dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo: Surabaya. Hal. 50-62.


Nama / NPM              : Riski Ludvitasari / 26211274
Kelas / Tahun            : 2EB09 / 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar