Jumat, 28 Desember 2012

REVIEW 2 : ABSTRACT

REVIEW 2 :

 PROFIL KOPERASI DI ERA GLOBALISASI: STUDI TENTANG POLA PERGESERAN ORGANISASI PRODUKSI KE KONSUMSI PADA INDUSTRI TAS DAN KOPOR DI KOPERASI INTAKO TANGGULANGIN SIDOARJO TAHUN 1976-2005
Oleh :

Mohammad Adib *
* Dosen Departmen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga
Jl. Airlangga 4-6 Surabaya Email: hmadib@unair.ac.id
Berisi :

 ABSTRACT

This study aims to (i) identify the production activities of the crafters Intako Tanggulangin Cooperation members, and (ii) describing the shift that occurred in production and consumption activities in relation to free-market competition Intako Tanggulangin globalization in the region in 2005. This research was conducted by survey at the Cooperation Intako Tanggulangin Sidoarjo. The population is a member of the Cooperation Intako crafters with a sample of 65 people (17.37%) of 374 members. Data collected by interview and observation to the respondents the crafters. Analysis was performed with the behavior and classification on findings made interpretation of the data and then by giving meaning and significance of the frequency table. The results are: first, in production activity, compared with average growth of business in the first 5 years (1976-1981) and the last five years (2000-2005), efforts to develop more cooperative Intako in the first five years with the level the highest growth reached 193% in 1981. Whereas in the past five years the highest business improvement only reached 132% in 2004; Second, the shift of production to consumption, descript that in the last five years (2000-2005), Cooperation Intako business has experienced a shift has occurred in terms of business development efforts especially on trading activities (Wholesale) with the highest 69.2% in 2005.
Keywords: internal competition, shifting business activities, production, and the wholesale.



Pengantar
 Penelitian ini membahas tentang pergeseran kegiatan ekonomi dari para perajin (produsen) tas dan koper di kawasan Intako Tanggulangin. Pergeseran dalam penelitian ini diartikan sebagai bagian dari perubahan bentuk kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh para perajin tas dan kopor di kawasan Intako Tanggulangin di era globalisasi. Indikator pergeseran itu meliputi: (i) jumlah perajin yang memproduksi barang tas dan kopor; (ii) jumlah tukang dan pembantunya (kuli) yang bekerja pada para perajin (produsen); (iii) jumlah barang yang diproduksi oleh para perajin; (iv) cara  menghadirkan barang tas dan kopor di kawawan Intako Tanggulangin. Pergeseran diukur dengan mem-bandingkannya dengan kegiatan serupa pada kurun lima tahun sampai tahun 2004.  
Globalisasi yang telah digagas oleh negara maju pada awal tahun 1980-an, terus menggelinding. Lebih tegas lagi pada pasca perang dingin. Perdagangan bebas sebagai salah satu dimensi globalilasi, telah memberlakukan penerapannya di kawasan ASEAN dengan AFTA pada tahun 2003 dan diberlakukan di kawasan Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2010 untuk negara-negara maju dan tahun 2020 untuk negara-negara berkembang (Lafontaine, 2000:4; Adib, 2001a). Persiapan waktu dua tahun lagi pelaksanaan di kawasan ASEAN, telah membawa para pelaku ekonomi untuk bersiap-siap dalam pengisiannya. Sesungguhnya, globalisasi dengan pasar bebasnya telah semakin terasakan keberadaannya sampai pada tingkat lokal dan terlihat dengan mata kepala di daerah kecamatan-kecamatan di Jawa Timur. Tidak terkecuali Kecamatan Tanggulangin yang dikenal dengan produksi tas, kopor, ikat pinggang, dompet, dan lain-lain. Keberadaan globalisasi itu ditandai dengan hadirnya produk-produk impor khususnya produk barang baik yang berasal dari seputar regional propinsi Jawa Timur dan juga nasional. Bahkan keberadaan barang pada tingkat lokal itu merupakan produksi barang dari luar negeri seperi Negara Cina, dan Thaiwan. Kehadiran barang-barang tersebut, ber-langsung secara leluasa, yang nyaris tanpa pengendalian dan pengkontrolan dari pihak yang berwenang menangani-nya yakni pemerintah dalam konteks ini Departemen Perdagangan dan Perindustrian RI. Kondisi tersebut sudah sewajarnya direspons oleh para pelaku ekonomi lokal dengan kegiatan yang kreatif, produktif, dan inovatif. Namun dalam kenyataannya, di luar kewajaran, disisi kegiatan produksi, kemampuan untuk menyediakan barang yang diproduksi sendiri terlihat semakin turun presentasenya pada lima tahun terakhir.
Sementara ketatnya kompetisi yang terjadi pada tingkat internal usaha industri di kawasan Intako, terdapat lebih kurang separuh dari industri dan per-dagangan itu yang telah berhenti (ambruk). Kondisi demikian, diperburuk dengan telah dibangunnya pusat-pusat perdagangan tas dan kopor di Tanggulangin pada tiga tahun terakhir. Ironisnya pembangunannya sendiri merupakan bagian dari kebijakan pemerintah.  Peluang usaha yang luas di Kawasan Tanggulangin dan didukung oleh brand image yang kuat, terasa tragis, karena pada perkembangannya, barang-barang yang dipasarkan di dalamnya mencapai jumlah 70% merupakan barang produksi dari luar Tanggulangin. Dengan kata lain, omset yang mencapai puluhan milyar perbulannya, hanyalah didukung oleh kekuatan 30% dari barang-barang yang diproduksi oleh perajin Tanggulangin. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin menurunnya gairah dari para perajin lokal untuk melaksanakan kegiatan produksi barang tas dan kopor.
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (i) bagaimana profil perajin anggota Koperasi Intako di kawasan Tanggulangin tahun 1976-2004? (ii) Bagaimanakah gambaran perkembangan yang terjadi pada kegiatan produksi distribusi di kawasan Intako Tanggulangin? dan (iii) Bagaimanakan pergeseran yang terjadi dalam kegiatan produksi ke kegiatan konsumsi di kawasan Intako Tanggulangin? Studi pustaka dalam penelitian ini diperoleh gambaran bahwa sebagai suatu kawasan yang memproduksi dan me-masarkan berbagai produk tas dan kopor serta perlengkapan lainnya, Tanggulangin, telah menampung tenaga kerja sampai 6000 orang dan mampu mensuplai sampai 70.000 unit barang pada setiap bulannya. Di kawasan itu terdapat showroom sejumlah 325 unit, yang memasarkan barang-barang kerajinan Tas dan Kopor yang pada setiap bulannya dapat mencapai omset penjualan sampai Rp. 5 milyar (Adib, 2001b:29). Profil industri tas dan kopor Tanggulangin sampai pada bulan Maret 1999 diklasifikasi berdasarkan pengusaha yang memproduksi barang berbagai tas dan atau kopor dari bahan kulit adalah sebagai berikut. Mitra Jaya jumlah karyawan—di bidang produksi termasuk
tukang dan pembantunya, serta pemasaran—300 orang dengan kapasitas produksi 10.000 barang jadi perbulan. CV. Maju makmur, hampir sejumlah itu juga; MCH, jumlah karyawan sekitar 250 orang dan berkapasitas produksi 8.000 barang/bulan; Citra Mulya Perkasa, jumlah karyawan 50 orang dengan kapasitas produksi 1.500 barang/bulan, Blawong Jaya jumlah karyawan 40 orang dengan produksi 1250 barang/bulan; Deltoni jumlah karyawan 30 orang dengan produksi 1000 barang/ bulan (Adib, 1999a:8).




BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dekriptif ini dilaksanakan di Koperasi Intako Desa Kedensari dan Kludan Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoardjo. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, Tanggulangin—yang memproduksi Tas dan Kopor—merupakan salah satu dari empat produksi barang dagangan dan menjadi potensi di Kabupaten Sidoarjo. Kedua desa tersebut merupakan umumnya bertempat tinggal para perajin anggota Koperasi Intako Tanggulanngin. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada para perajin yang tergabung sebagai anggota Koperasi Intako dengan menggunakan panduan wawancara dan atau kuesionar. Kuesioner dimintakan untuk mengisi kepada 65 orang (17.37%) dari 374 orang anggota Koperasi Intako, sebagai responden. Sedangkan wawancara mendalam dilaku-kan kepada anggota koperasi yang melaksanakan kegiatan produksi. Diwawawancarai juga secara mendalam informan yang terdiri dari para tokoh masyarakat perajin terutama yang masih melakukan kegiatan produksi di lokasi penelitian. Adapun kegiatan observasi dilakukan kepada para produsen (perajin) yang melakukan kegiatan produksi barang-barang tas, koper, dompet, ikat pinggang dan lain-lain di kawasan Intako.
Kegiatan observasi ini dilakukan untuk melakukan pengamatan langsung tentang tempat kegiatan, jumlah personalia, jenis-jenis barang yang diproduksi, peralatan produksi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan produksi. Teknik analisis dan interpretasi data dilakukan dengan memilih atau menyeleksi informasi yang dilakukan dengan cara melakukan pengecekan ulang serta pengecekan silang atas informasi yang diperoleh dari informan, sehingga diperoleh data yang dapat akurat. Data yang terkumpul diorganisasikan ke dalam kategorisasi-kategorisasi dalam bentuk tabel frekuensi yang menjadi bagian-bagian dasar deskripsi.  Kegiatan analisis dilakukan dengan cara mengkatagorisasikan, mengklasifikasikan data dari hasil observasi dan wawancara. Hasilnya kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase.  Kegiatan interpretasi dilakukan dengan cara (i) memberi pemaknaan dan nilai penting dari tabel dan atau data yang ditampilkan tersebut; (ii) menjelaskan kategori-kategori data secara deskriptif; serta (iii) memperhatikan hubungan di antara data tersebut.



Nama / NPM              : Riski Ludvitasari / 26211274
Kelas / Tahun            : 2EB09 / 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar